Bocoran Harga Galaxy Z Fold 8 & Flip 8: Naik hingga Rp2,3 Juta!
- Samsung
Gadget – Rumor seputar kehadiran Samsung Galaxy Z Fold 8 series dan Galaxy Z Flip 8 semakin menguat menjelang ajang Galaxy Unpacked 2026 yang rencananya digelar di London pada 22 Juli 2026. Namun kali ini, sorotan bukan hanya pada desain atau fitur melainkan pada kenaikan harga yang cukup mencolok.
Menurut laporan eksklusif dari media Korea Selatan Bloter, Samsung berencana menaikkan harga ketiga ponsel lipat terbarunya di pasar domestik. Lonjakan ini dipicu oleh melonjaknya biaya komponen utama, terutama chip memori DRAM dan NAND Flash, yang harganya naik beberapa kali lipat dalam setahun terakhir.
Namun, di balik tren kenaikan umum, ada satu kejutan menarik: Galaxy Z Fold 8 versi “Wide” justru sedikit lebih murah dibanding pendahulunya. Bagaimana detail lengkapnya? Simak analisis mendalam berikut ini.
Harga Resmi Bocor di Korea Selatan: Naik hingga Rp2,3 Juta
Di Korea Selatan pasar pertama yang biasanya menjadi acuan global Samsung dikabarkan akan membanderol ketiga perangkat sebagai berikut:
| Model | Harga (KRW) | Setara Rupiah* |
| Galaxy Z Fold 8 (Wide) | 2.278.000 won | ±Rp26,8 juta |
| Galaxy Z Fold 8 Ultra | 2.577.000 won | ±Rp30,4 juta |
| Galaxy Z Flip 8 | 1.683.000 won | ±Rp19,8 juta |
*Kurs: Rp11,78 per won (berdasarkan data Oktober 2025)
Perbandingan dengan Generasi Sebelumnya:
- Galaxy Z Fold 8: Rp1,2 juta LEBIH MURAH dibanding Z Fold 7 saat peluncuran
- Galaxy Z Fold 8 Ultra: Naik Rp2,3 juta dari Z Fold 7
- Galaxy Z Flip 8: Naik Rp2,3 juta dari Z Flip 7
Fakta ini menunjukkan bahwa Samsung menerapkan strategi diferensiasi harga: model reguler (Fold 8 Wide) dibuat lebih terjangkau untuk menarik basis pengguna baru, sementara varian premium (Ultra) dinaikkan untuk memaksimalkan margin keuntungan dari segmen high-end.
Penyebab Kenaikan Harga: Krisis Biaya Memori Global
Laporan Bloter menyebut bahwa biaya produksi smartphone premium kini didominasi oleh memori. Dalam kurun waktu satu tahun (Q1-2025 hingga Q3-2026), proporsi biaya memori pada ponsel seharga US$800 melonjak dari 14% menjadi 40%.
DRAM dan NAND Flash komponen inti untuk RAM dan penyimpanan mengalami kelangkaan pasokan akibat gangguan rantai pasok global dan permintaan tinggi dari sektor AI, cloud, dan otomotif.