Mengenang 81 Tahun Bom Hiroshima
- Hofst
Para penyintas menyatakan frustrasi dan cemas melihat dukungan yang terus tumbuh terhadap kepemilikan senjata nuklir sebagai alat deterensi, termasuk di Jepang sendiri. Negara yang pernah menjadi korban bom atom kini berada di bawah payung nuklir Amerika Serikat dan berulang kali meminta jaminan perlindungan dari Washington. Dalam sudut pandang hibakusha, keamanan yang dibangun di atas ancaman nuklir adalah paradoks tragis: perlindungan yang mengandalkan logika senjata yang pernah menghancurkan kota mereka.
Karena posisi itu, pemerintah Jepang menolak tuntutan para penyintas untuk menandatangani Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW) atau setidaknya menghadiri pertemuannya sebagai pengamat. Penolakan tersebut memperlebar jarak antara pengalaman korban dan kalkulasi politik negara. Di titik inilah peringatan 81 tahun Hiroshima menjadi panggung ketegangan: antara memori korban yang menyerukan “tidak ada lagi Hiroshima, tidak ada lagi Nagasaki” dan kepentingan strategis yang tetap mengafirmasi peran nuklir dalam sistem keamanan internasional.
Pelajaran Global dan Seruan PBB: Memilih Masa Depan Damai
Peringatan 81 tahun bom Hiroshima tidak hanya menjadi urusan Jepang, tetapi juga panggilan global yang dipertegas oleh pesan tertulis Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Ia mengingatkan bahwa kengerian senjata nuklir adalah satu pelajaran utama dari Hiroshima, namun pelajaran lainnya adalah keharusan membangun dunia di mana ancaman atau penggunaan senjata tersebut menjadi sesuatu yang tak terbayangkan. Dalam konteks meningkatnya ketegangan internasional dan melemahnya norma nonproliferasi, pesannya menjadi semakin relevan.
Guterres menegaskan, Hiroshima berdiri sebagai contoh inspiratif tentang daya tahan, pemulihan, dan harapan. Kota yang pernah menjadi lambang kehancuran kini menjadi simbol rekonsiliasi dan komitmen perdamaian. Melalui generasi ke generasi, warga Hiroshima menunjukkan bahwa dari titik tergelap sejarah, manusia tetap dapat memilih dan membangun masa depan yang berbeda. Pesan ini bersambung dengan seruan untuk mengedepankan dialog dibanding perpecahan, kerja sama dibanding konfrontasi, dan keamanan bersama di atas kepentingan sempit.
Dalam sejarahnya, bom atom meledak di Hiroshima membuat 140.000 jiwa tewas di Hiroshima dan 70.000 di Nagasaki, bersamaan dengan Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945.