Mengenang 81 Tahun Bom Hiroshima

Hiroshima saat bom atom meledak.
Sumber :
  • Hofst

GadgetVIVA - Memperingati 81 tahun sejak bom atom Amerika Serikat dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, dunia kembali menoleh ke kota di barat Jepang itu sebagai simbol luka sejarah sekaligus harapan akan perdamaian. Di Hiroshima Peace Memorial Park, puluhan ribu orang berkumpul dalam upacara tahunan yang sarat makna, di tengah ketegangan geopolitik dan menguatnya kembali wacana deterensi nuklir. Peringatan ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat keras bahwa nalar yang membenarkan senjata nuklir dapat menyeret umat manusia ke “Hiroshima” dan “Nagasaki” berikutnya — jika pelajaran sejarah diabaikan.

img_title MediaTek Dimensity 9600 Pro Resmi: Chip 2nm dengan ARM C2 dan AI Canggih

Seruan Wali Kota Hiroshima: Hentikan Nalar Deterensi Nuklir

Dalam deklarasi perdamaian yang dibacakan di hadapan sekitar 50.000 peserta dari lebih dari 120 negara dan wilayah, Wali Kota Hiroshima Kazumi Matsui menyampaikan kritik tajam terhadap negara-negara besar yang masih menjadikan senjata nuklir sebagai pilar keamanan. Ia memperingatkan, meremehkan sifat tidak manusiawi senjata nuklir dan menerima penggunaan kekerasan demi kemakmuran sendiri adalah resep siklus balas dendam yang berpotensi berujung pada tragedi lain seperti Hiroshima atau Nagasaki. Kata-kata Matsui menggarisbawahi bahwa deterensi nuklir, betapapun disebut “realistis”, justru menjauhkan dunia dari cita-cita tanpa senjata nuklir.

img_title Xring O3 vs Dimensity 9500: Chipset Xiaomi Ungguli MediaTek di Benchmark, Performa Gaming Makin Gahar

Matsui menyoroti bagaimana terlalu banyak pemimpin politik masih menganggap deterensi nuklir sebagai pendekatan masuk akal dan menggunakannya untuk melegitimasi kekerasan, sehingga visi dunia tanpa nuklir kian terasa jauh. Di tengah lanskap keamanan global yang semakin rapuh, pesan ini menabrak arus utama, mengajak publik menimbang kembali narasi “kebutuhan” senjata nuklir. Menurutnya, mengubah cara pandang adalah langkah awal agar kebijakan yang diambil tidak lagi berputar pada ancaman saling memusnahkan.

Tak berhenti pada level elite, Matsui juga menyerukan setiap warga untuk belajar dari masa lalu dan mengambil tindakan nyata. Seruan ini menyasar generasi muda yang mungkin tidak lagi memiliki hubungan emosional langsung dengan peristiwa 1945. Melalui pendidikan, diskusi publik, dan aktivisme damai, warga dunia diajak menjadikan Hiroshima sebagai titik tolak perubahan, bukan sekadar bab sejarah dalam buku pelajaran.

img_title Redmi Note 17 Series Siap Rilis di RI, Bawa Baterai Jumbo

Upacara Hening di Hiroshima: Memori, Simbol, dan Pesan Politik

Tepat pukul 08.15 waktu setempat, saat bom berkode “Little Boy” dijatuhkan dari pesawat B-29 Amerika Serikat pada 6 Agustus 1945, para peserta upacara menundukkan kepala dalam satu menit hening. Suara lonceng perdamaian menggema di Hiroshima Peace Memorial Park, menembus keheningan dan mengikat memori jutaan jiwa pada detik yang mengubah sejarah dunia. Momen ini menjadi simbol bahwa, 81 tahun berselang, luka dan pelajaran dari Hiroshima belum boleh pudar.

Upacara tahun ini juga dihadiri Perdana Menteri Sanae Takaichi, untuk pertama kalinya dalam kapasitasnya sebagai perdana menteri. Dalam pidatonya, Takaichi menegaskan akan mengambil “pendekatan realistis” untuk mencapai dunia di mana senjata nuklir tidak pernah digunakan, dengan tetap berada dalam kerangka Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT) di bawah PBB. Namun, istilah “realistis” ini sarat nuansa politik, terutama ketika bersinggungan dengan komitmen Jepang terhadap prinsip-prinsip non-nuklir pasca perang. Demikian dilansir Asia One, Kamis, 6 Agustus 2026.

Spekulasi publik menguat karena pemerintahan Takaichi yang dikenal berhaluan keras terhadap isu keamanan mendukung konsep deterensi nuklir dan disebut-sebut akan meninjau ulang tiga prinsip non-nuklir Jepang dalam dokumen keamanan baru yang akan disusun tahun ini. Salah satu wacana paling kontroversial adalah kemungkinan melonggarkan prinsip ketiga, yaitu tidak mengizinkan senjata nuklir dibawa masuk ke wilayah Jepang. Meski Takaichi menyebut Jepang tetap memegang tiga prinsip tersebut, ia tidak secara tegas menjanjikan bahwa kebijakan itu akan dipertahankan tanpa perubahan di masa depan, membuka ruang kekhawatiran di kalangan publik dan komunitas internasional.

Penyintas, Payung Nuklir AS, dan Penolakan Traktat Pelarangan

Di balik seremoni resmi, suara paling pilu hadir dari para penyintas bom atom, atau hibakusha, yang jumlahnya terus menyusut. Dari angka awal, kini hanya sekitar 91.105 penyintas yang masih hidup, dengan rata-rata usia di atas 86 tahun. Banyak di antara mereka terlalu muda ketika serangan terjadi untuk mengingat dengan detail, sehingga memori Hiroshima semakin bergantung pada dokumentasi, kesaksian, dan upaya kolektif menjaga cerita tetap hidup. Kekhawatiran terbesar mereka adalah ingatan publik yang kian memudar, padahal dunia masih dikepung ancaman senjata nuklir.

Para penyintas menyatakan frustrasi dan cemas melihat dukungan yang terus tumbuh terhadap kepemilikan senjata nuklir sebagai alat deterensi, termasuk di Jepang sendiri. Negara yang pernah menjadi korban bom atom kini berada di bawah payung nuklir Amerika Serikat dan berulang kali meminta jaminan perlindungan dari Washington. Dalam sudut pandang hibakusha, keamanan yang dibangun di atas ancaman nuklir adalah paradoks tragis: perlindungan yang mengandalkan logika senjata yang pernah menghancurkan kota mereka.

Karena posisi itu, pemerintah Jepang menolak tuntutan para penyintas untuk menandatangani Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW) atau setidaknya menghadiri pertemuannya sebagai pengamat. Penolakan tersebut memperlebar jarak antara pengalaman korban dan kalkulasi politik negara. Di titik inilah peringatan 81 tahun Hiroshima menjadi panggung ketegangan: antara memori korban yang menyerukan “tidak ada lagi Hiroshima, tidak ada lagi Nagasaki” dan kepentingan strategis yang tetap mengafirmasi peran nuklir dalam sistem keamanan internasional.

Pelajaran Global dan Seruan PBB: Memilih Masa Depan Damai

Peringatan 81 tahun bom Hiroshima tidak hanya menjadi urusan Jepang, tetapi juga panggilan global yang dipertegas oleh pesan tertulis Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Ia mengingatkan bahwa kengerian senjata nuklir adalah satu pelajaran utama dari Hiroshima, namun pelajaran lainnya adalah keharusan membangun dunia di mana ancaman atau penggunaan senjata tersebut menjadi sesuatu yang tak terbayangkan. Dalam konteks meningkatnya ketegangan internasional dan melemahnya norma nonproliferasi, pesannya menjadi semakin relevan.

Guterres menegaskan, Hiroshima berdiri sebagai contoh inspiratif tentang daya tahan, pemulihan, dan harapan. Kota yang pernah menjadi lambang kehancuran kini menjadi simbol rekonsiliasi dan komitmen perdamaian. Melalui generasi ke generasi, warga Hiroshima menunjukkan bahwa dari titik tergelap sejarah, manusia tetap dapat memilih dan membangun masa depan yang berbeda. Pesan ini bersambung dengan seruan untuk mengedepankan dialog dibanding perpecahan, kerja sama dibanding konfrontasi, dan keamanan bersama di atas kepentingan sempit.

Dalam sejarahnya, bom atom meledak di Hiroshima membuat 140.000 jiwa tewas di Hiroshima dan 70.000 di Nagasaki, bersamaan dengan Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945.